Palu – Peringatan Haul ke-58 ulama kharismatik pendiri Alkhairaat, Habib Idrus bin Salim Al-Jufri, yang jatuh pada 1 April 2026 atau bertepatan dengan 12 Syawal 1447 Hijriah, kembali menjadi momentum refleksi bagi umat, khususnya di Kota Palu. Sosok yang akrab disapa Guru Tua ini dikenang sebagai tokoh pendidikan yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk ilmu dan kemajuan umat.
Ketua DPD PKS Kota Palu, Muzakkirah, dalam pernyataannya menegaskan bahwa Guru Tua bukan sekadar pendiri lembaga pendidikan, tetapi juga sosok panutan yang menghadirkan nilai-nilai keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Habib Idrus atau yang kita kenal sebagai Guru Tua Alkhairaat merupakan salah satu tokoh pendidikan yang mendedikasikan seluruh hidupnya pada ilmu dan dunia pendidikan. Beliau adalah tokoh panutan, pengayom, sekaligus pemersatu umat,” ujar Muzakkirah.
Menurutnya, nilai-nilai yang diwariskan Guru Tua masih sangat relevan hingga hari ini. Kesederhanaan hidup, kegigihan dalam berjuang, serta sikap tawadhu menjadi cerminan akhlak yang patut diteladani oleh generasi masa kini.
Sebagai alumni Alkhairaat, Muzakkirah mengaku secara tidak langsung memiliki kedekatan emosional dengan ajaran yang diturunkan oleh Guru Tua. Ia merasakan bagaimana nilai-nilai pendidikan yang ditanamkan mampu membentuk karakter dan cara pandang hidup.
Sebagai alumni Alkhairaat, saya merasa bangga dan bersyukur pernah menjadi bagian dari lembaga yang didirikan oleh beliau. Nilai keikhlasan, kesederhanaan, dan semangat perjuangan yang secara tidak langsung beliau ajarkan menjadi bekal penting dalam menjalani kehidupan,” ungkapnya.
Ia juga mengajak seluruh masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak hanya mengenang Guru Tua dalam seremoni haul semata, tetapi juga meneladani perjuangan dan akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari.
Peringatan haul ini, lanjutnya, harus menjadi momentum untuk memperkuat persatuan umat dan melanjutkan estafet perjuangan dalam dunia pendidikan serta dakwah.
“Semoga kita semua mampu melanjutkan jejak langkah beliau, menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama, serta terus menjaga nilai-nilai persatuan yang telah beliau tanamkan,” tutup Muzakkirah.
Haul ke-58 Guru Tua tidak hanya menjadi ajang mengenang, tetapi juga ruang untuk meneguhkan kembali komitmen dalam membangun peradaban melalui ilmu, akhlak, dan keteladanan.

