TSW7GSYoTfd7Gfz9GSC9Tfz=

Malu dengan Amanah

 

Ada satu rasa yang diam-diam tumbuh, pelan namun pasti—malu.

Bukan malu karena tak mampu, tapi malu karena merasa belum pantas menerima begitu banyak kepercayaan yang disematkan dalam kata “amanah”.

Amanah itu datang, kadang tanpa kita minta. Ia hadir dalam bentuk tugas, tanggung jawab, bahkan sekadar kepercayaan kecil yang orang lain titipkan di pundak kita. Dan anehnya, semakin kita menjalaninya semakin terasa bahwa apa yang kita lakukan belumlah seberapa. Ada celah yang belum terisi, ada niat yang perlu diluruskan, ada langkah yang masih terseok antara ikhlas dan ingin diakui.

Di saat yang sama, dunia hari ini bergerak dengan cepat terutama di ruang-ruang media sosial. Setiap aktivitas mudah sekali dibingkai, setiap kontribusi bisa dipublikasikan, setiap langkah seakan layak untuk diumumkan. Foto-foto bertebaran, narasi dibangun dan tanpa sadar kita mulai terlihat seperti seseorang yang telah melakukan sesuatu yang besar.

Padahal di dalam hati, kita tahu persis: belum.

Belum sebanding dengan harapan yang diamanahkan.
Belum sepadan dengan doa-doa yang mungkin dipanjatkan orang lain untuk kita.
Belum cukup untuk disebut sebagai perjuangan yang berarti.

Di situlah rasa malu itu menemukan tempatnya.

Malu pada setiap amanah yang diberi, karena kita tahu betapa beratnya tanggung jawab itu jika benar-benar ditunaikan dengan sepenuh hati. Malu pada setiap foto dan berita yang tersebar, karena kita sadar bahwa yang tampak sering kali hanya bagian kecil dari realitas, bahkan kadang hanya kemasan dari sesuatu yang belum matang.

Ada kegelisahan yang tak bisa dijelaskan. Seolah setiap pujian yang datang justru menjadi cermin bukan untuk menunjukkan kehebatan, tetapi untuk memperlihatkan betapa banyak yang masih harus diperbaiki.

Kadang yang paling kita takuti bukanlah kegagalan, tapi pujian yang datang terlalu cepat sebelum kita benar-benar layak menerimanya.

Malu itu bukan untuk membuat kita berhenti.
Justru ia hadir sebagai penjaga agar langkah tetap lurus, agar niat tidak berbelok, agar hati tidak tergelincir dalam euforia pengakuan.

Sebab dalam perjalanan dakwah, yang sering menjadi ujian bukan hanya lelahnya berjuang tapi juga halusnya godaan untuk terlihat hebat.

Tanpa disadari, kita bisa terjebak dalam ilusi. Merasa telah banyak berkontribusi hanya karena apa yang kita lakukan terlihat oleh banyak orang. Padahal, ukuran sebenarnya bukan pada seberapa banyak yang melihat, tetapi pada seberapa dalam dampaknya bahkan jika itu hanya diketahui oleh langit.

Ada orang-orang yang bekerja dalam diam, tanpa kamera, tanpa sorotan, tanpa narasi panjang. Tapi mungkin justru mereka yang paling dekat dengan makna dari amanah itu sendiri. Mereka yang tidak sibuk membangun citra, tapi sibuk memperbaiki diri. Mereka yang tidak mengejar pengakuan, tapi mengejar ridha yang tak terlihat.

Dan kita, yang kadang masih berada di tengah-tengah—antara ingin ikhlas dan ingin dihargai—belajar dari rasa malu itu.

Belajar bahwa tidak semua hal harus dibagikan.
Belajar bahwa tidak semua perjuangan harus dipamerkan.
Belajar bahwa menjadi “tidak terlihat” kadang justru lebih menenangkan.

yang pada akhirnya, kita cari bukanlah tepuk tangan manusia tapi penerimaan dari Yang Maha Mengetahui isi hati.

Maka ketika foto itu diunggah, ketika berita itu tersebar, biarlah hati tetap berbisik pelan: “Ini belum apa-apa.”
Bukan untuk merendahkan diri secara berlebihan, tapi untuk menjaga agar kita tetap sadar bahwa perjalanan ini masih panjang.

Masih banyak yang harus diperbaiki.
Masih banyak yang harus diluruskan.
Masih banyak amanah yang harus benar-benar ditunaikan, bukan sekadar dijalani.

Amanah bukan tentang terlihat berperan besar, tapi tentang seberapa jujur kita menunaikannya saat tak ada yang melihat.

Dan mungkin, rasa malu itu adalah anugerah.
Karena ia membuat kita terus kembali kepada niat yang semula kepada tujuan yang sebenarnya, kepada diri yang ingin terus bertumbuh tanpa harus selalu terlihat.

Biarlah dunia melihat seperlunya.
Tapi biarlah hati tetap merasa belum cukup. 
Sebab dari sanalah keikhlasan punya ruang untuk hidup. 

Terinspirasi dari cerita kecil @ustadzah Muzakkirah



0Komentar

Tambahkan komentar
adsvert
adsvert
adsvert
adsvert

Info

  • 59 Street, 06 Lane, Newyork
  • +0123456789
  • info@domainku.com